Hari ke 5 – Perjalanan ke Kathmandu – Nepal, Everest Base Camp dan Kala Patthar ( Kathmandu – Lukla )

Berdasarkan diskusi dengan agent kami di Kathmandu sore sebelumnya, bahwa kami pagi pagi sekali jam 6 akan dijemput. Berangkatlah kami ke bandara. Sampai bandara jam 6 bandara pun belum buka. Dengan harapan mungkin ada tiket yang cancel atau available.

antrian masuk bandara domestik tribuvan international airport Kathmandu

antrian masuk bandara domestik tribuvan international airport Kathmandu

 

Hingga jam 12 siang menunggu di luar karena kami belum dapat opsi untuk berangkat, jadinya tidak bisa masuk ke dalam. Akhirnya karena perut sudah keroncongan kami makan dibandara sambil terus menunggu agent kami mencari informasi yang positif buat kami. Akhirnya jam 2 muncul opsi untuk kami terbang ke Lukla yaitu Heli dengan biaya $2000 ke Lukla untuk 4 orang atau $2400 untuk 6 orang yang dijanjikan mendapat tambahan penumpang 2 orang lain yang akan ikut bergabung. Tapi akhirnya 2 orang lain tersebut dengan alasan nggak jelas batal.

Jadinya opsi heli terlalu mahal buat kami. Beberapa saat kemudian, ada satu opsi lagi yaitu charter pesawat single propeler dari Air Kasthamandap besok hari. Kebetulan pesawat sudah terpenuhi seatnya yaitu 8 orang termasuk kami. Dan bagusnya harga untuk kami tambah tidak terlalu mahal dibandingkan heli. Akhirnya kami putuskan ambil opsi tersebut karena selain lebih murah juga yang paling pasti.

Akhirnya kita pulang dari bandara, sambil menunggu mobil jemputan saya bertemu dengan mantan Pasukan Gurkha yang terkenal kekejaman dan keberaniannya. Dia menawarkan jasa taxi ke kami. Namanya Dave dia bercerita bahwa tahun 1977 dia berumur 21 tahun dan dikirim ke Borneo bersama pasukan Inggris.

Dia bercerita bahwa saat perang dia sudah membunuh 13 orang mungkin dengan senjata khasnya Nepal yaitu Khukuri yang berbentuk melengkung, tapi sekarang dia sangat menyesal. Sambil foto bersama pak Dave, setelah itu mobil jemputan kami datang.

gurkha taxi driver tribhuvan airport

Mantan tentara Gurkha sekarang taxi driver di Tribuvan Airport

Kami hari ini relatif tidak ada kegiatan karena tidak jadi terbang, jadi rencana hari ini akan city tour. Dari bandara  kami minta mobil untuk berhenti dan meninggalkan kami di Thamel Street, sebelumnya kami mampir ke tailor untuk jahit bendera merah putih biar nasionalis gitu, siapa tahu nanti Bapak Menpora ngelihat kemudian memberi sponsor .. hahaha

jahit bendera merah putih di kathmandu

jahit bendera merah putih di kathmandu

setelah tawar menawar harga dari 3000 NPR akhirnya sepakat 1500 NPR. Setelah itu kami jalan ke outlet outdoor gear ternama yang ada di Thamel Plaza. Mulai dari Salewa, Millet, TNF, Mountain Hardware sampai Black Yak. Merek terakhir ini berasal dari Korea yang sudah ada sejak tahun 1973 tetapi di Nepal baru 7 bulan beroperasi. Bahkan merek inipun tak kalah mahal dan bagus. Bahkan jaket windproofnya nya ada yang seharga 6 jutaan rupiah. ckckck

Akhirnya tiada hasil karena mahal coy harganya. Hanya Bang Yedi yang ambil sepatu Salewa seharga 27000 NPR. Dengan cash dapat discount tetapi kartu kredit no discount. Tapi hebatnya dengan modal bahasa tarzan dan kalkulkator bisa dapat 10 persen discount dengan kartu kredit di oulet resmi Salut deh.. berguru dimana sih bang ? :)

Puas belanja dan melihat lihat, kami lanjutkan untuk jalan. Sempat mampir foto foto dan nengok ke dalam Kaiser Garden, tapi kita nggak masuk karena waktu sudah mepet, jadi langsung jalan menuju counter outdoor lokal bermerek Sherpa. Sambil menyeberang perempatan yang diatur oleh “polisi lalu lintas” karena disini nggak ada traffic light atau lampu lalu lintas. Kapan mobil jalan dan berhenti diatur oleh pak polisi lalu lintas ini. Wah kasian juga dari siang sampai malam mengatur.

Setelah puas lihat lihat di outlet Sherpa, kami keluar dan  dijemput oleh guide untuk diantar ke city tour pertama yaitu Budha Stupa Thanka yaitu kuil tempat sembahyang umat Buddha yang terbesar di Nepal, biaya masuknya 150 NPR buat orang asing dan 40 NPR untuk orang lokal, setelah puas foto foto kita balik. Karena lokasinya ada di tempat jalan yang sempit, kita harus berkoordinasi dengan mobil jemputan karena tidak bisa lama menunggu kalau nggak klakson yang bersahutan akan mengiringi ..

Setelah itu kita diantar ke Hanuman-dhoka Dhurbar Square yang merupakan tempat kerajaan lama di Nepal, mirip mirip sama keraton di Jogja lah.

Beres city tour, malam kami diantar balik ke Hotel. Beres makan di Hotel, jalan jalan lagi ke Thamel Street untuk melihat lihat mungkin ada yang menarik hati. Sambil tak lupa ambil jahitan bendera merah putih. Jam 9 balik ke hotel untuk makan malam setelah itu tidur untuk persiapan penerbangan ke Lukla keesokan harinya, sambil berdoa semoga Lukla membuka jalan buat kami terbang ..

Komentar di sini yuk ..