Hari ke 11 – Perjalanan ke Kathmandu – Nepal, Everest Base Camp dan Kala Patthar ( Periche – Lobuche )

Biar kata dokter oksigen level saya 80% an dibawah standard yang harusnya min 85%, tapi kadang kekonyolan saya membuat saya tetap nekad karena sudah tanggung untuk terus melanjutkan ke Lobuche yang tingginya mencapai angka fantastis 4910 mdpl hampir 5000 mdpl lebih tinggi dengan gunung manapun di Indonesia, termasuk puncak Cartenz yang 4884 meter dpl. Dengan semangat pagi biar udara menusuk tulang diiringi dengan doa kami yang tinggal berdua karena mas Ryco sudah turun terlebh dahulu, kami mantap melangkah.

Sungai sungai sebagian membeku menjadi es tipis. Sekitar 2 km berjalan nafas saya terengah engah karena dinginnya udara dan tipisnya oksigen, membuat saya sering berhenti. Dengan pertimbangan kesehatan dan fisik karena kepala sudah pusing sekali karena oksigen tipis akhirnya saya mengundurkan diri dan stay di Periche, meskipun mas Yedi tetap memberi semangat dan menawarkan membawakan tas daypack saya atau berangkat lagi besoknya untuk aklimatisasi lagi 1 hari di Periche. Setelah saya coba jalan sebentar harus berhenti lagi gw rasa sangat berat. Semangat membara tetapi fisik kurang mendukung. Apa daya akhirnya saya memutuskan harus stay di Periche karena diatas 5000 mdpl kata guide jika tidak fit sangat berbahaya. Setelah saya pikir benar juga kata guide, yang nanggung resikonya memang akan saya sendiri. Akhirnya dengan berat hati gantian saya yang harus menyerahkan bendera semi sponsor untuk dikibarkan bang Yedi.

Ya sudahlah ambil positifnya mungkin ini yang terbaik buat saya. Dengan lunglai barang barang saya dipindahkan ke porter cabutan lain yang kebetulan balik menuju Periche. Akhirnya saya balik ke Periche untuk booking kamar.

Di gunung tinggi seperti ini memang penyakit AMS bisa menyerang siapa saja walaupun dengan fisik yang kuat sekalipun, makanya saya sangat berhati hati. Apalagi kira kira sebulan setelah saya menyelesaikan perjalanan ini ada pendaki dari Malasyia yang tewas ketika menuju Everest Base Camp. Mengerikan ..

Sampai di Periche porter cabutan sudah menurunkan barang saya, tapi tidak langsung pergi. Padahal saya lihat dengan mata kepala sendiri di atas sudah dibayar oleh guide kami. Akhirnya saya paham kayanya dia menunggu tips. Mungkin mereka terbiasa diberi tips. Karenga saya nggak siapin, akhirnya saya keluarkan semua duit di kantong saya bilang saya nggak ada duit rupee sambil saya tunjukkan semua uang saya. Karena dia nggak bisa bahasa inggris, saya juga pletak pletok jadinya kita pakai bahasa tarzan, akhirnya saya kasih tunjuk semua uang saya dan tinggal sisa satu satunya uang rupee 25 NPR dan saya relakan ke dia sambil saya bilang thank you .. thank you ..
Akhirnya dia mau pergi, dalam hati mungkin menggerutu dasar turis kere.. :)

Tapi walaupun demikian besoknya saya jalan jalan pagi masih bertemu porter kemarin lagi dan masih senyum lho sambil mengucap Namaste .. yang artinya Halo/ Hai.. saya balas namaste sambil balas senyum..

Hari ini asli sangat membosankan karena sendirian di Periche, tidak ada perjalanan dan serba dingin disini. Masuk kamar seperti masuk kulkas. Heater cuma ada di ruang makan dan dinyalakan mulai jam 4 sore. Di kamar sangat dingin lebih lebih di siang hari. Tidak terasa sepertinya kondisi badan memang sudah lelah kadang kotoran hidung/upil, ih jorok ya … :) berwarna merah bercampur darah.

Komentar di sini yuk ..